081-234-567-890

Mau Pasang Iklan?

Informasikan Bisnis & Usaha Anda di Sini

Friday, September 21, 2012

Mengukur Suhu dengan Tangan, Bisakah?

Sahabat Indonesia Cerdas, info sains kali ini kita akan membahas mengenai mengukur suhu. Seperti yang telah kita pelajari bahwa untuk mengukur suhu diperlukan alat yang disebut termometer. Pertanyaan yang akan kita jawab adalah bisakah mengukur suhu dengan tangan kita?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita lakukan percobaan sederhana berikut : Sediakan tiga buah ember, kita sebut ember A, ember B, dan ember C. Kemudian isi ember A dengan air es, lalu isi ember B dengan air sumur, dan isi ember C dengan air hangat.
Masukkan tangan kanan ke ember A dan tangan kiri ke ember C. Setelah itu secara bersamaan masukkan kedua tangan ke ember B. Apa yang kamu rasakan? Ketika kamu memasukkan tangan kananmu ke ember A, ternyata tanganmu terasa dingin. Sedangkan tangan kiri yang kamu masukkan pada ember C, terasa hangat. Ketika kamu memindahkan kedua telapak tanganmu dengan cepat dan memasukannya pada ember B, ternyata tangan kanan yang tadinya merasakan dingin akan berubah merasakan hangat, sedangkan tangan kiri yang tadinya merasakan hangat akan terasa dingin. Mengapa demikian? Hal ini menunjukkan bahwa tangan kita tidak dapat menyatakan suhu suatu benda dengan tepat, juga karena jangkuan perasaan kita terbatas. Oleh karena itu manusia menciptakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengukur suhu dan besarnya suhu dapat dilihat dari angka yang ditunjukkan. Alat itu disebut termometer.

Monday, September 17, 2012

Simulasi Fisika : Kuat Arus Listrik

Belajar Fisika tentu akan lebih menarik dan menyenangkan jika dibantu dengan simulasi. Simulasi Fisika juga akan mempermudah belajar kita. Salah satu simulasi yang disajikan di blog pembelajaran Indonesia Cerdas ini adalah simulasi Kuat Arus Listrik.

Kuat arus listrik merupakan besarnya muatan listrik yang mengalir melalui suatu penghantar tiap satuan waktu. Secara matematis besarnya kuat arus listrik dituliskan :
Keterangan :
I   = kuat arus listrik (A)
Q = muatan listrik (C)
t   = waktu (s)
Berikut ini simulasi mengenai Kuat Arus Listrik :


Simulasi Kuat Arus Listrik


Masukkan besarnya muatan listrik dan lamanya muatan listrik mengalir(waktu), kemudian klik "Hitung" untuk mengetahui besarnya kuat arus listrik. Untuk menghapus data silahkan klik "Reset"

Muatan Listrik         =  coulomb
Waktu = sekon

Kuat Arus Listrik = A


Sunday, September 9, 2012

Simulasi Fisika : Kuat Medan Listrik

Belajar Fisika tentu akan lebih menarik dan menyenangkan jika dibantu dengan simulasi. Simulasi Fisika juga akan mempermudah belajar kita. Salah satu simulasi yang disajikan di blog pembelajaran Indonesia Cerdas ini adalah simulasi Kuat Medan Listrik.

Kuat medan listrik menyatakan besarnya gaya listrik tiap satuan muatan. Secara matematis besarnya kuat medan listrik dituliskan :
Keterangan :
E = kuat medan listrik (N/C)
F = gaya listrik (N)
Q = muatan listrik (C)

Berikut ini simulasi mengenai Kuat Medan Listrik :


Simulasi Kuat Medan Listrik


Masukkan besarnya gaya listrik dan muatan listrik, kemudian klik "Hitung". Untuk menghapus data silahkan klik "Reset"

Gaya Listrik         =  N
Muatan Listrik = C

Kuat Medan Listrik = N/C


Friday, September 7, 2012

Bagaimana Terjadinya Petir?

Sahabat Indonesia Cerdas...Bagaimana kabarnya? Info Sains kali ini akan mengupas mengenai bagaimana terjadinya petir. Tentu kita sudah mengetahui tentang petir, bukan ?
Petir atau sering disebut halilintar adalah gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan biasanya disebut kilat yang beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar sering disebut guruh. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya.

Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan(loncatan) muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.

Wednesday, September 5, 2012

Menyalakan Kompor dengan Air, Bisakah ?

Liburan akhir semester ini dimanfaatkan oleh Salma, Wafa, Aisy, dan Zulfa untuk berkemah. Di hari terakhir kegiatan perkemahan bahan perbekalan sudah menipis. Bahkan, persediaan minyak tanah telah habis sama sekali. Ketika mereka sedang memasak, kobar api terlihat semakin kecil. Padahal mereka mulai merasakan lapar.
"Wah....kita kehabisan minyak nih!", kata Salma.
"Apa iya....coba kulihat !" sahut Wafa sambil menggoyang kompor kemudian membukanya.
Ternyata sumbu kompor terlihat menggantung. Meskipun sedikit, tetapi sebenarnya minyak masih ada. Karena sumbu tidak mencapai minyak, maka tidak bisa dipakai untuk memasak lagi.
"Waduh, kita harus memasak pakai kayu nih", ujar Salma.
"Ditambah air saja!", Zulfa memberikan pendapatnya.
Teman-temannya heran dengan usul Zulfa. Menyalakan kompor dengan air, bisakah?
Zulfa pun segera menuangkan air ke dalam kompor dengan jumlah tertentu. Ditunggunya beberapa saat, kemudian kompor dinyalakan kembali. Ternyata kompor itu benar-benar menyala. Masakan akhirnya dapat matang tepat waktu. Mereka pun dengan lahap menikmati makan siang mereka menjelang penutupan kegiatan perkemahan.

Mengapa air bisa dipakai untuk menyalakan kompor? Benarkah air yang membuat kompor itu kembali menyala?

Untuk menjawabnya kita akan kembali ingat pada konsep massa jenis benda. Massa jenis minyak tanah lebih kecil dibanding massa jenis air. Selain itu, menurut sifatnya minyak tidak bisa bercampur dengan air. Ketika air ditambahkan dalam kompor maka air akan terpisah dengan minyak. Minyak mempunyai massa jenis lebih kecil daripada air. Sehingga, minyak akan berada di lapisan atas.

Minyak pun dapat menjangkau ujung sumbu dan naik ke ujung atas karena adanya peristiwa kapilaritas. Dengan demikian api akan kembali menyala. Menarik bukan belajar sains ?

Friday, August 24, 2012

Mengapa Kita Perlu Belajar Fisika ?

Sahabat Indonesia Cerdas, kita bertemu lagi untuk membahas mengenai dunia sains. Kali ini akan kita kupas mengenai “mengapa kita perlu belajar fisika”. Jika kita membicarakan mengenai fisika, tentu akan teringat dengan mata pelajaran yang selama ini dirasa sulit oleh sebagian siswa. Padahal, fisika membahas sesuatu yang ada di sekitar kita. Jika kita mengetahui mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi tentu akan menyenangkan bukan?

Belajar sains khususnya fisika adalah belajar memahami apa, mengapa, dan bagaimana sesuatu itu bisa terjadi. Sesuatu yang ada dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, sains fisika ada di sekitar kita.
Sebagai contoh ketika kita berada di jalan raya, maka berbagai kendaraan yang melaju di jalan raya bisa kita pahami dengan konsep gerak. Mobil yang sedang dicuci dan diangkat dengan dongkrak hidrolik menerapkan sains fisika yaitu konsep tekanan. Begitu juga pemasangan kaca jendela maupun pemasangan rel kereta api, semuanya menerapkan sains fisika yaitu konsep pemuaian. Untuk membedakan benda yang satu dengan yang lainnya maka digunakan konsep massa jenis. Ultrasonografi(USG) maupun alat untuk mengukur kedalaman laut pun menggunakan sains fisika yaitu konsep bunyi.Masih banyak lagi contoh penerapan sains fisika dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dengan memahami sains fisika kita akan lebih maju dan mampu mengatasi segala permasalahan yang ada di sekitar kita. Itulah mengapa kita perlu belajar fisika.

Tuesday, August 21, 2012

Bagaimana Cara Membuktikan Kemurnian Emas?

Jika kita bertanya "Bagimana cara membuktikan kemurnian emas" tentu kita akan langsung teringat dengan Archimedes. Ya, dengan diiringi ungkapan "Eureka....eureka" Archimedes berhasil menemukan cara membuktikan kemurnian emas.
Percobaan Archimedes berawal dari perintah Raja Syracuse kepadanya agar memeriksa apakah mahkota raja yang dibuat perajin emas memang benar-benar terbuat dari emas murni yang ia berikan. Sang Raja curiga mahkota telah dicampur dengan bahan lain. Padahal Raja telah memberikan emas murni pada perajin dalam jumlah yang cukup.
Jika tugas tersebut diberikan kepada kita pada saat ini tentu dengan mudah kita dapat membuktikannya. Tetapi, di jaman dulu tentu saja Archimedes harus berpikir keras untuk bisa menemukan cara membuktikan kemurnian emas.
Archimedes memulai pembuktiannya dengan menimbang mahkota tersebut. Ternyata, setelah ditimbang tidak ada yang salah dengan mahkota itu. Massa emas murni sama dengan massa mahkota itu.
Archimedes melanjutkan pemeriksaan dengan mencermati massa satu kilogram emas dan satu kilogram perak. Ternyata, satu kilogram emas memiliki volume yang lebih kecil dibanding volume satu kilogram perak. Artinya, bila emas dicampur dengan perak maka akan menyebabkan perubahan volume. Archimedes pun bergumam, "Satu-satunya cara aku harus mengukur volume mahkota ini, tapi bagaimana caranya?"



Cara mengukur volume benda yang bentuknya tidak teratur dia temukan setelah di mandi. Ketika mandi ia mengamati setiap orang masuk dalam bak mandi maka permukaan air akan naik. Peristiwa itu semakin jelas ketika ia menceburkan badannya, air dalam bak meluap ketika ia masuk. Air dalam bak mandi didesak oleh tubuhnya. Archimedes pun tanpa sadar meloncat keluar dari bak mandi sambil berteriak girang "Eureka..eureka..!", yang artinya "aku sudah menemukan".
Archimedes pun melanjutkan penelitiannya dengan memasukan mahkota ke dalam bejana yang terisi penuh dengan air. Sebagian air pun tumpah. Kemudian ia memasukkan emas murni ke dalam bejana yang terisi penuh dengan air. Sebagian air pun tumpah. Archimedes membandingkan volume air yang dipindahkan antara mahkota dengan emas murni berbeda. Air yang tumpah saat emas murni dimasukkan lebih sedikit daripada air yang tumpah saat mahkota dimasukkan bejana. Artinya, mahkota telah dicampur dengan bahan lain.
Begitulah sejarah penelitian pertama mengenai massa jenis suatu benda. Untuk menentukan kemurnian emas maka perlu diteliti massa dan volumenya. Perbandingan massa dan volume harus sama dengan massa jenis emas. Mudah bukan ?
Punya informasi terbaru yang ingin dimuat di web ini?. Hubungi kami di link ini:- https://t.co/quGl87I2PZ
Mau langganan informasi?